efek ringan

- See more at: http://raxterbloom.blogspot.com/2012/10/cara-membuat-efek-gelembung-melayang-di.html#sthash.KUsJ9ppj.dpuf

Pengaruh Hutan dan Laut Terhadap Global Warming

20.15 |


World Ocean Conference (WOC) yang berlangsung 11–15 Mei di Manado, Sulawesi Utara, telah mengingatkan kita bangsa-bangsa di dunia, khususnya bangsa Indonesia, betapa pentingnya kelestarian dan keasrian lingkungan laut untuk menjaga kestabilan iklim dan mencegah terjadinya global warming (kenaikan suhu bumi).

Hutan laut yang meliputi berbagai jenis kehidupan laut yang membutuhkan karbondioksida sebagai bahan makanannya––seperti halnya tumbuhan di hutan––berjumlah amat banyak,mulai dari jasad renik bersel satu sampai yang bersel banyak. Biota laut “penyerap”karbondioksida inilah yang mampu mengurangi pemanasan suhu bumi.
Salah satu biota laut yang paling banyak menyerap gas karbondioksida adalah berbagai ganggang hijau (algae).Organisme yang mudah hidup di laut ini punya kemampuan besar menyerap karbondioksida dan itu dapat diolah menjadi biofuel, bahan bakar ramah lingkungan.

Penelitian dalam skala laboratorium yang dilakukan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) membuktikan algae di laut mampu tumbuh 20–25 kali hanya dalam 15 hari dengan diberi makan karbondioksida (CO2).

Ganggang dari jenis chaetoceros sp dengan jumlah sel awal 40.000 sel per mililiter setelah diberi CO2 menjadi sebesar 780.000 sel per ml dalam 15 hari, bahkan chlorella sp dengan jumlah sel awal 40.000 sel per ml menjadi 1 juta sel per ml dalam 15 hari,kata Kepala BPPT Dr Marzan Aziz Iskandar dalam seminar “Implementasi Pengurangan Emisi Karbondioksida sebagai Upaya Mitigasi Global Warming” belum lama ini di Jakarta.

Hal ini bisa menjadi konsep awal penghitungan penyerapan karbon di laut.Indonesia memiliki potensi laut sangat luas sehingga pemerintah bisa mengambil peran besar dalam upaya mengurangi global warming. Di lain pihak, ganggang juga bisa dipanen sebagai bahan baku biofuel yang prosesnya memiliki efisiensi 40% lebih tinggi dibandingkan membuat biofuel dengan bahan baku minyak kelapa sawit (CPO).

Ke depan, penangkapan dan penyerapan karbon dengan algae bisa diterapkan pada pembuangan emisi karbon dari pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang biasanya dibangun di pinggir laut. Pengurangan emisi karbon dari industri selain dengan penggunaan carbon capture sequestrationseperti ini, juga bisa dengan pemanfaatan energi terbarukan dan perbaikan teknologi yang mampu melakukan efisiensi energi serta memperbaiki proses produksi menjadi lebih hemat bahan bakar. ***

Indonesia menyumbang 7% pencemaran dunia yang berasal dari karbondioksida atau setara dengan 2,5 miliar ton CO2.Jumlah karbondioksida sebanyak itu berdampak cukup serius terhadap laju pemanasan suhu bumi (global warming). Besarnya polutan karbondioksida ini antara lain disebabkan besarnya laju dan tingkat penggundulan hutan di Indonesia yang mencapai 1–2 juta hektare per tahun. Tentu saja sumber pencemar di darat ini harus segera dihentikan.

Pemerintah harus berani melakukan “moratorium” penebangan hutan sampai batas waktu tertentu sehingga hutan yang gundul tersebut tumbuh dan pulih kembali.Jika hutan itu sudah pulih kembali, pemerintah harus bisa menerapkan peraturan penebangan kayu yang ketat dan konsisten sehingga jumlah kayu yang ditebang tidak mengganggu ke-lestarian hutan.

Indonesia, negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia dalam rangka mengatasi pemanasan global. Namun, kita sering tak menyadari bahwa sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon, bahkan dua kali lipat dari kapasitas penyerapan karbondioksida (carbon sink) oleh hutan.

Emisi karbon yang sampai ke laut ini diserap oleh fitoplankton yang jumlahnya sangat banyak di lautan, yang kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika fitoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainnya. Selain berbagai jenis fitoplankton, Indonesia juga kaya dengan terumbu karang yang bisa menyerap karbondioksida.

Terumbu karang yang hidup di dasar laut dan menyerupai hutan ini tak kalah fungsinya dibandingkan hutan dalam rangka penyerapan karbondioksida. Sayangnya,kita tahu,pemanasan global juga membawa ancaman terhadap terumbu karang Indonesia, yang merupakan jantung kawasan segi tiga karang dunia (heart of global coral triangle).

Coral triangle ini meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon yang merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, khususnya terumbu karang. Pemanasan global telah meningkatkan suhu air laut sehingga terumbu karang menjadi stres dan mengalami pemucatan/ pemutihan (bleaching).

Jika kondisi ini terus berlangsung, terumbu karang tersebut akan mengalami kematian. Di sisi lain coral triangle memiliki fungsi penting bagi kehidupan manusia. Lebih dari 120 juta orang bergantung hidupnya pada terumbu karang dan perikanan di kawasan tersebut. Coral triangle dua dekade belakangan ini juga menjadi pusat penelitian para ahli kelautan dunia.

Pada 2005,The Nature Conservancy Coral Triangle Center (TNCCTC), sebuah lembaga konservasi internasional yang juga menjalankan programnya di Indonesia dan negara-negara Pasifik,telah mengadakan sebuah workshop internasional di Bali yang dihadiri para pakar kelautan dunia dengan tujuan untuk menetapkan batas cakupan wilayah coral triangle.

Pada akhir workshop,para pakar kelautan berhasil memetakan coral triangle yang mencakup negara-negara tersebut di atas dengan luas total terumbu karang 75.000 km2. Indonesia sendiri memiliki luas terumbu karang sekitar 51.000 km2 yang menyumbang lebih dari 21% luas terumbu karang dunia.

Melihat peran dan posisinya yang strategis,Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC di Sidney telah mengumumkan dan mengajak negara-negara di dunia, khususnya di kawasan Asia Pasifik, untuk menjaga dan melindungi kawasan coral triangle.

Indonesia bersama lima negara lain, yaitu Filipina, Malaysia,Timor Leste,Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon, menyepakati inisiatif perlindungan terumbu karang yang disebut Coral Triangle Initiative (CTI). Inisiatif ini juga telah mendapatkan dukungan dan respons positif dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Australia.

Dari perspektif itulah kita mengetahui betapa pentingnya posisi Indonesia dalam upaya penyelamatan manusia dari kenaikan suhu bumi. Jika hal itu disadari dan pemerintah bisa memanfaatkan kondisi tersebut dengan cerdas,bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi pusat perhatian “pembangunan ekosistem”global untuk mencegah pemanasan suhu bumi yang dampaknya akan menambah lapangan kerja, memperluas pendidikan masyarakat, dan meningkatkan perekonomian bangsa Indonesia.(*)

0 komentar:

Poskan Komentar